Sosiologi politik

Sosiologi politik adalah studi tentang cara individu diorganisasikan secara kolektif, didukung oleh analisis kekuasaan, politik dan Negara.

Artinya, sosiologi politik memfokuskan upayanya pada masalah kekuasaan, dengan mempertimbangkan berbagai teori sosiologis, tanpa memandang agama, situasi keuangan, ras atau jenis kelamin individu dalam masyarakat.

Ciri-ciri sosiologi politik

Ini berfokus pada memeriksa organisasi negara, hubungan mereka dan dampaknya pada individu dalam masyarakat. Untuk mencapai ini, ia menggunakan sejarah, antropologi, ekonomi, dan ilmu politik.

Secara teoritis Max Weber (sosiolog Jerman) menegaskan bahwa bentuk rasionalitas ekonomi berasal dari organisasi masyarakat. Artinya, dengan adanya lembaga-lembaga kekuatan alam.

Sementara itu, Durkheim (sosiolog, pendidik dan antropolog asal Perancis), menyebutkan bahwa dari pembagian kerja individu dikaitkan dengan masyarakat dengan adanya lembaga-lembaga publik yang ada di dalamnya. Hal ini karena pada akhirnya masyarakat diorganisir untuk menyelesaikan permasalahannya melalui keberadaan lembaga-lembaga publik. Yang, pada gilirannya, menjamin integrasi sistemik. Dan berkat inilah generasi model perilaku melalui norma-norma sosial dimungkinkan.

Pentingnya studi sosiologi politik

Studi sosiologi politik memungkinkan kita untuk memahami posisi ideologis yang berbeda. Misalnya, mengevaluasi secara kritis demokrasi dalam kebijakan publik dan sosial.

Untuk sosiologi politik, kontekstualisasi rezim, apakah demokratis atau tidak, adalah fundamental karena memungkinkan untuk menganalisis dimensi kekuasaan yang berbeda.

Mengingat dinamika sosial dan ekonomi yang terjadi di negara seperti kepemimpinan politik, organisasi kekuasaan, kajiannya sangat relevan untuk memiliki unsur-unsur yang menjelaskan proses perubahan sosial.

Tantangan sosiologi politik

Masalah reorganisasi sosial dan adanya ketimpangan, hal ini menciptakan kebutuhan untuk menghasilkan cara-cara baru dalam penataan hubungan antara lembaga publik dan masyarakat.

Mengingat penyelenggaraan kepentingan publik bukanlah sesuatu yang wajar seperti keluarga, maka diperlukan, misalnya, penilaian keberadaan demokrasi yang dikondisikan oleh manipulasi suara dengan imbalan beberapa keuntungan bagi pemilih.

Contoh lain dari tantangan yang dihadapi sosiologi politik adalah:

  • Adanya kediktatoran, otoritarianisme dan totalitarianisme.
  • Peran politik korporasi.
  • Batas-batas penerapan otonomi Negara.
  • Gerakan sosial dan media.
  • radikalisme politik.
  • Wacana kerakyatan dan konsekuensinya dalam keputusan pemilih.

Alat sosiologi politik untuk menghadapi tantangan

Kedalaman analisis inilah yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat dalam masalah politik, untuk mendeteksi:

  • Ciri-ciri kepemimpinan politik.
  • Keterwakilan Negara dalam skema demokrasi.
  • Pengelolaan parpol dalam wacana versus realitas (demagogi).
  • Masyarakat sipil dan keterlibatannya dalam kehidupan politik.
  • Mendorong demokrasi dengan kompetisi antar partai.
  • Media yang didukung oleh nilai-nilai etika.

Was this helpful?

0 / 0

Leave a Reply 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *